Tarif Ekspor Barang ke Negara Ini Nol Rupiah Loh!

Masalah yang terjadi pada UMKM yang inginn mengekspor barang keluar negeri adalah masalah tarif masuk ke negara tujuan ataupun tarif transportasi.

Menjawab permasalahan tersebut, Wamendag yaitu Jerry Siamboga mengatkana bahwa saat ini pelaku usaha bisa mendapatkan keuntungan dengan adanya perjanjian perdagangan Indonesia.

Hal tersebut ia sampaikan saat sedang melakukan sosialiasi hasil perundingan perdagangan internasional Indonesia EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement di Cirebon.

IE-CEPA sendiri merupakan kerja sama ekonomi yang dilakukan oleh indonesia dan kelompok negara EFTA yang diisi oleh negara seperti Islandia, Liechtenstein, Norwegia, dan juga Swiss.

“Ada 23 perjanjian dagang yang sudah di signing, yang sudah masuk dalam tahap gratifikasi dan tahap implementasi salah satunya adalah IE-CEPA,” kata Jerry dalam acara yang digelar secara virtual, Kamis 16 September 2021.

Jerry juga menambahkan, terdapat banyak manfaat atau keuntungan yang bisa diraih dengan menggunakan perjanjian tersebut, salah satunya adalah efisiensi biaya masuk ke dalam negara yang sudah disebutkan sebelumnya.

“Tarif bea masuk ke negara EFTA ada 4 negara yaitu Islandia, Liechtenstein, Norwegia, dan Swiss. kurang lebih mencapai 8 ribu produk barang-barang dari kita ekspor ke sana tarifnya nol. Efisiensi dari segi cost, efisiensi dari segi pembiayaan dan tentunya practicality dari sisi pelaku usaha,” jelasnya.

Ia mengatakan, moment tersebut harusnya bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pelaku usaha UMKM, Jerry juga menceritakan sekilas mengenai perjalanan IE-CEPA yang pada saat itu dimulai tahun 2005 dan baru mendapatkan kesepakatan di tahun 2018.

Tak hanya sampai situ, dalam waktu 2019 hingga 2021 untuk masuk dalam proses pengesahan di Indonesia, April 2021, DPR meratifikasi IE-CEPA lewat peraturan Perpu.

Upaya pemerintah ini tergolong cukup lama untuk bisa menyediakan fasilitas perdangan yang diharapkan akan memberikan sejumlah benefit bagi para pelaklu usaha dalam negeri, sehingga akan berdampak pada ekspor Indonesia.

“Perjanjian dagang itu tidak selalu cepat prosesnya. Tapi salah satu tupoksi Kemendag adalah mempercepat penyelesaian perjanjian dagang,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, ia juga menjelaskan tentang perkembangan dari neraca perdagangan Indonesia hingga bulan Agustus 2021 yang bisa mencetak surplus sebesar 4,74 miliar US Dollar.

Tentunya angka tersebut merupakan yang tersebesar dalam 10 tahun terakhir sejarah Indonesia “Ini artinya, ekspor kita lebih besar dari pada impor dan ini data dari BPS yang kredibel, independen, objektif, dan valid,” kata dia.

Adapun surplus dagang kumulatif Januari-Agustus 2021 tercatat sebesar US$ 19,17 miliar. Pihaknya menilai, angka surplus itu cukup besar dan patut disyukuri karena bisa dicapai meski dalam kondisi pandemi COVID-19. Disaat pandemi COVID-19 ini ekonomi memang sulit, namun sekarang ada situs judi slot online resmi MOJOBET89 yang dapat menjadi solusi untuk mendapatkan pemasukan meski dirumah saja. Namun kamu harus tetap menahan diri dan jangan sampai rugi ya.

“Oleh karena itu, ini semua dalam rangka menjadikan RI sebagai bangsa yang mengekspor dan ini kenyataan dan akan terus kita lakukan. Penting bagi kita semua gimana cara meningkatkan ekspor, gimana cara ekspor dan negara mana, serta barang apa,” pungkasnya.